Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil Alamin atau di kenal dengan P5RA di semester satu tahun ajaran 2024-2025 MTs Umar Mas'ud mengambil tema Kearifan lokal, tema ini merupakan tema pertama yang diangkat. Sedangkan Sub tema yang kami angkat adalah "Molot Bhebiyen"atau dalam bahasa indonesia Maulid khas Bawean.
Projek ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan kearifan lokal kepada para siswa melalui kegiatan Molot Bawean, sebuah tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang khas di Bawean. Kegiatan ini mengajarkan nilai-nilai luhur Pancasila, khususnya gotong-royong, kerukunan, serta penghormatan terhadap budaya dan agama. Melalui projek ini, diharapkan para siswa dapat lebih mengenal identitas budaya lokal dan memupuk rasa cinta terhadap tanah air.
Dalam pelaksanaannya, siswa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang meliputi persiapan pelaksanaan maulid, langkah awal yang dilakukan oleh siswa di pelaksanaan P5RA ini adalah pemahaman mendalam tentang sejarah dan makna di balik Molot Bawean. Mereka juga melakukan observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, dan dokumentasi kegiatan untuk meningkatkan kemampuan literasi, kolaborasi, dan berpikir kritis.Setelah mendapatkan informasi dari tokoh masyarakat, siswa melakukan persiapan angkatan maulid.
Langkah awal yang dilakukan adalah membuat telur asin, selanjutnya membuat cocok telur dan tonggul, setelah itu menghias cocok telur dan tonggul juga timba untuk wadah maulid. Tonggul adalah dekorasi atau hiasan khas yang digunakan dalam upacara Molot Bawean. Biasanya, tonggul berbentuk seperti tiang terbuat dari bambu atau struktur yang dihiasi dengan janur kuning, bunga, dan simbol-simbol lain yang melambangkan kemuliaan. Tonggul sering kali dibawa dalam arak-arakan atau prosesi sebagai simbol penghormatan dan kebesaran peringatan Maulid Nabi. Fungsi utama tonggul adalah sebagai penghias atau penanda acara, melambangkan suasana perayaan yang penuh sukacita. Cocok Tellor adalah salah satu elemen khas dari Molot Bawean, di mana telur (tellor) ditusukkan pada batang atau tongkat kecil. Telur-telur ini kemudian dihias dengan kertas warna-warni atau janur, dan dijadikan bagian dari dekorasi atau persembahan dalam perayaan Maulid. Tradisi ini melambangkan kemakmuran, kesuburan, serta rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah yang diterima. Telur yang dihias ini sering kali dibagikan kepada tamu atau peserta setelah acara.
Pada hari brikutnya siswa diminta untuk mengisi wadah maulid tersebut dengan makanan khas Maulid yaitu Dhudhul, Dhudul (kadang juga disebut dodol) adalah makanan manis khas Indonesia yang terbuat dari bahan utama tepung ketan, santan, dan gula merah. Makanan ini memiliki tekstur lengket, kenyal, dan sering disajikan dalam potongan kecil. Dhudul merupakan camilan yang biasa disajikan saat perayaan atau acara adat, termasuk pada perayaan Maulid Nabi di Bawean. Proses pembuatannya cukup memakan waktu karena perlu diaduk terus-menerus hingga adonan mengental dan lengket. Rengginang, Rangginang adalah makanan tradisional yang terbuat dari nasi ketan yang dikukus, dibentuk menjadi lingkaran, lalu dijemur hingga kering dan digoreng hingga garing. Rangginang biasanya bertekstur renyah dan gurih, kadang-kadang disajikan dengan rasa manis atau asin, tergantung pada variasi bumbunya. Ini sering dijadikan camilan sehari-hari atau dihidangkan dalam acara-acara tradisional, termasuk Molot Bawean. dan Ghughudu, Ghughudu adalah makanan tradisional khas Bawean yang terbuat dari ketan. Makanan ini biasanya dibentuk menjadi bulatan kecil dan disajikan pada acara-acara khusus, termasuk perayaan Molot Bawean atau Maulid Nabi. Ghughudu memiliki tekstur yang kenyal dan rasa yang gurih, sering disajikan dengan taburan kelapa parut dan gula merah. Ketiga makanan tersebut adalah bagian dari kekayaan kuliner tradisional Indonesia dan sering hadir dalam acara Molot Bawean, mencerminkan keanekaragaman budaya dan cita rasa lokal.
Melalui kegiatan Molot Bawean, para siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman langsung tentang budaya lokal, tetapi juga belajar untuk menghargai perbedaan dan memperkuat persaudaraan antarumat beragama. Nilai-nilai inklusivitas yang terkandung dalam tradisi ini sejalan dengan konsep Rahmatan Lil Alamin, yang menekankan pentingnya hidup harmonis dan saling menghormati antarumat manusia.
Secara keseluruhan, projek ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap kearifan lokal dan nilai-nilai Pancasila. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan, dan hasil dari projek ini akan dijadikan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat pendidikan karakter di MTs Umar Mas'ud melalui pendekatan budaya dan tradisi lokal.
Posting Komentar